Informasi singkat mengenai kanker di Indonesia

Kanker merupakan penyakit yang membawa kematian pada masa ini, pertumbuhan kanker ditiap negara sangat berbeda sesuai dengan perubahan trend. Belum dapat dipastikan perubahan dominasi sebaran kanker ini di masaing-masing negara.

Saat ini di Indonesia sendiri , informasi tepercaya tentang sebaran kanker di Indonesia masih terbatas. Faktor-faktor penyebab kanker hanya dapat relevansikan ke pola hidup yang dilakukan. pada masa lalu sebaran ini dapat dibatasi dalam lingkup perkotaan atau pedesaan, masing-masing mempunyai tipe jenis kanker yang berbeda. Namun seiring perkembangan tempat tempat tersebut, pola sebaran kanker menjadi menyatu, tidak ada perbendaan berdasarkan tempat, disebabkan pola hidup yang hampir sama. Informasi sebaran kanker sangat diperlukan untuk menjadi pedoman dalam penanggulangan kanker di Indonesia.

Sumber informasi penelitian sebaran kanker.

Penelitian mengenai sebaran kanker ini tidak dapat diperoleh dalam waktu singkat, namun dari riset yang dilakukan bertahun-tahun. Salah satu penelitian yang dilakukan di Indonesia adalah riset yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat, dimana pengambilan sampel dilakukan dengan statistik berdsarlan umur, demografi dan faktor ketersediaan tenaga medis yang menangani penyakit ini.

berdasarkan Survei tahun 2007, bila dilihat dari wilayah, Indonesia bagian Barat 86,1% lebih besar dari Indonesia Bagian Tengah yaitu 12,9% diikuti Indonesia wilayah Timur sebesar 1%.

Di Pulau Sumatra, jumlah pasien kanker terbanyak terdapat di Sumatra Utara. Sedangkan di Pulau Jawa, Provinsi Jawa Tengah mendominasi dengan jumlah penderita kanker terbanyak. Di Pulau Sulawesi, jumlah penderita kanker terbanyak terdapat di Sulawesi Selatan. Pulau Kalimantan tidak terlihat perbedaan yang jauh di antara provinsinya. Untuk Kepulauan Maluku dan Irian Jaya, Papua Barat menduduki posisi paling tinggi. Apabila dibandingkan antarpulau maka Jawa merupakan pulau dengan penderita kanker terbanyak (71,9%).

WHO melaporkan bahwa hampir seratus persen penyebab kanker serviks uteri adalah human papilloma virus (HPV). Sedangkan tujuh puluh persen penyebab kanker serviks uteri adalah infeksi virus HPV tipe 16 dan 18 yang persisten.

Data riset penyakit tidak menular 2016 yang dilakukan oleh Balitbangkes Kemenkes RI tahun 2016 menunjukkan bahwa wanita usia 25-64 tahun yang pernah melakukan pemeriksaan IVA baru sebesar 3,52%; sementara yang pernah melakukan papsmear sebesar 7,71%. Belum dilaksanakannya program vaksinasi HPV di Indonesia disebabkan oleh faktor harga vaksin yang mahal yang juga menjadi faktor penghambat di negara dengan sumber dana terbatas.

Di beberapa negara maju di mana program pencegahan dan deteksi dini kanker serviks telah dilaksanakan dengan baik, angka kejadian kanker serviks dapat diturunkan sebanyak 65% dalam kurun waktu 40 tahun setelah dilaksanakan program vaksinasi. Deteksi dini dan terapi kanker serviks pada tahap awal dapat mencegah berkembangnya penyakit kanker serviks hingga 80% di negara maju.

Di Norwegia, insiden kanker serviks menurun dari 18,7 per 100.000 penduduk menjadi 9,6 per 100.000 penduduk pada tahun 2011, setelah dilakukan program vaksinasi HPV. Data GLOBOCAN tahun 2008 menunjukkan bahwa untuk negara di wilayah Asia Tenggara atau negara berkembang, prevalensi kanker serviks uteri lebih tinggi dibandingkan negara maju (Eropa, Amerika, dan Australia).

Data WHO tahun 2016 menunjukkan bahwa negara maju merupakan negara yang paling banyak menggunakan vaksin HPV. Sedangkan negara dengan penghasilan menengah ke bawah baru mulai meningkat jumlahnya. Hal tersebut mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa angka kejadian kanker serviks lebih banyak ditemukan di negara dengan penghasilan menengah ke bawah.

Sebagian besar infeksi virus HPV mengenai wanita usia muda di beberapa negara, termasuk Eropa, Asia Tengah, Jepang, dan Cina. Sebuah studi kohort menyebutkan bahwa hal tersebut berhubungan dengan perubahan perilaku seksual. Faktor risiko lain yang dapat meningkatkan infeksi virus HPV antara lain jumlah paritas/persalinan normal, merokok, dan jumlah partner seksual.

Meskipun telah dilakukan vaksinasi HPV, sangat penting untuk tetap melakukan skrining deteksi dini, karena vaksinasi HPV tidak bisa menyembuhkan seseorang yang telah terinfeksi HPV, atau vaksin HPV yang saat ini tersedia belum mengcover seluruh tipe HPV penyebab kanker serviks.

Kedua vaksin yang tersedia saat ini yaitu Gardasil dan Cervarix, terutama untuk tipe 16 dan 18 yang merupakan penyebab terbanyak (70%) kanker serviks di dunia Strategi yang disarankan WHO untuk menurunkan kejadian kanker serviks di negara dengan penghasilan menengah ke bawah ada dua, yaitu melalui pemberian vaksinasi human papilloma virus (HPV) bagi anak perempuan usia 9-13 tahun dan skrining serta terapi lesi prakanker serviks lebih dini dengan metode inspeksi visual asetat.

Seperti halnya kanker serviks, kanker payudara juga merupakan jenis kanker yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Data Indonesian Cancer Registry Rumah Sakit Kanker “Dharmais”, Jakarta, menunjukkan peningkatan jumlah penderita kanker payudara di Indonesia sejak tahun 1995-2004.

Terjadi perubahan trend jenis kanker di Indonesia dari kanker serviks yang awalnya merupakan urutan pertama pada periode 1995-2000, berubah menjadi urutan ke-2 pada periode 2001-2004. Pada periode 2001-2004, kanker payudara menduduki urutan pertama.

Hal ini sebelumnya juga terjadi di dunia, di mana terjadi peningkatan incidence rates penderita kanker payudara sebesar 30% di negara barat dalam kurun waktu 1980-1990.3 Meningkatnya jumlah kanker payudara di negara barat berkaitan dengan 3 hal, yaitu:

  1. berubahnya faktor reproduksi (berkurangnya jumlah wanita yang hamil dan memiliki anak),
  2. penggunaan terapi sulih hormon pada wanita menopause, dan 3. meningkatnya skrining kanker payudara.

Pada awal tahun 2000 terjadi penurunan incidence rates kanker payudara setelah negara tersebut mengurangi jumlah pemakaian terapi sulih hormon pada wanita menopause. Angka kematian akibat kanker payudara di Amerika Utara dan Eropa (negara maju) pada periode tahun 1900 mengalami penurunan. Hal tersebut diperkirakan berkaitan dengan keberhasilan deteksi dini mammografi dan penanganan kanker payudara pada stadium awal.

Sedangkan di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia,
penyebab meningkatnya kejadian kanker payudara diperkirakan akibat berubahnya pola reproduksi, obesitas, kurang aktivitas fisik, dan belum terbiasa deteksi dini kanker payudara.

Deteksi dini kanker payudara di negara berkembang mengalami hambatan akibat mahalnya dan terbatasnya fasilitas pelayanan mammografi. Untuk mengatasi hal tersebut, negara berkembang, termasuk pemerintah Indonesia, telah melakukan alternatif deteksi dini kanker payudara melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan clinical breast examination (CBE) oleh petugas kesehatan.

Menurut distribusi wilayah, dapat dilihat bahwa semua jenis kanker paling banyak ditemukan di Jawa Tengah. Kanker tulang, tulang rawan, dan saluran kemih paling banyak ditemukan di Jawa Barat. Kanker darah paling banyak ditemukan di DKI Jakarta dan kanker paru paling banyak ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Sumatra Utara kanker terbanyak yang ditemui adalah kanker serviks serta ovarium. Di DI Yogyakarta dan Sumatra Barat yang paling banyak adalah kanker payudara. Di Jawa Barat dan Lampung yang terbanyak adalah kanker kulit. Di Sulawesi Selatan yang paling banyak kanker kelenjar gondok/endokrin. Di Banten kanker jaringan lunak paling banyak ditemukan. Tabel 3 menunjukkan bahwa kanker serviks uteri dan ovarium selalu menempati posisi 3 besar di 10 provinsi yang menduduki rangking teratas.

Hasil analisis menunjukkan bahwa angka kejadian kanker di wilayah Indonesia bagian barat lebih besar jika dibandingkan wilayah Indonesia tengah dan makin menurun hingga wilayah Indonesia timur. Pulau Jawa merupakan pulau dengan jumlah kanker paling tinggi. Sedangkan Jawa Tengah merupakan provinsi dengan kejadian kanker tertinggi. Kanker serviks uteri dan ovarium serta kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Tiap jenis kanker memiliki karakteristik sosiodemografi yang berbeda. Kanker serviks uteri dan ovarium paling banyak ditemukan pada usia dewasa, dengan status menikah, hidup di perkotaan, dan memiliki status pendidikan rendah. Kanker payudara paling banyak ditemukan pada wanita usia dewasa, status menikah, tinggal di perkotaan, status pendidikan rendah, dan status ekonomi rendah.

Kanker serviks dan kanker payudara merupakan jenis kanker terbanyak dan jumlahnya terus bertambah di Indonesia. Untuk itu, penulis menyarankan agar pemerintah dapat lebih meningkatkan edukasi pencegahan dan deteksi dini terhadap kanker, terutama kanker serviks dan payudara. Salah satu upaya preventif dan deteksi dini dan terhadap kanker serviks di Indonesia yaitu dengan cara menjadikan vaksinasi HPV sebagai program nasional serta mendorong percepatan cakupan program deteksi lesi prakanker serviks dengan metoda inspeksi visual asetat (IVA) serta terapi sedini mungkin.

Tingginya harga vaksin HPV hendaknya dapat mendorong pemerintah agar dapat memproduksi vaksin HPV yang sesuai dengan tipe virus HPV di Indonesia secara mandiri. Sedangkan untuk penanggulangan kanker payudara dilakukan edukasi pencegahan dan deteksi dini melalui pendidikan/penyuluhan melalui media sosial-eletronik, program pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), dan pemeriksaan payudara klinis (SADANIS)

Sumber :Indonesian Journal of Cancer Vol. 11, No. 1 January – March 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *